Monday, March 31, 2014

CCPNS, tapi...

Sah sah saja sebenarnya memiliki memiliki pilihan partai untuk didukung dalam pemilu. Itu adalah hak politik tiap warga negara untuk memilih dan dipilih. Apapun profesi, seberapa kaya, seberapa tinggi jabatan hak ini tetap dimiliki pleh seluruh warga negara Indonesia.

Tak terkecuali PNS. Seorang PNS pun juga memiliki hak ini. Minus hak untuk dipilih, PNS tetap memiliki hak untuk memilih. Tapi seorang PNS tidak boleh menunjukkan keberpihakannya kepada orang lain. Ini sudah rahasia umum. Hal ini dikarenakan jika seorang PNS berpihak kepada sebuah partai maka kebijakan yang diambilnya pun akan diragukan objektivitas dan kualitas kebijakannya. Dikhawatirkan, kebijakannya akan memuat unsur kepentingan partai yang didukungnya. Jadi jelaslah, seorang PNS tidak boleh terlibat dalam kegiatan politik praktis.

Bagaimana jika seorang CPNS menjadi seorang juru kampanye, bahlan kader dari sebuah partai politik? Memang dia belum menjadi PNS tapi bukankah dengan ikut mengkampanyekan suatu parpol saat menjadi CPNS akan mempengaruhi independensinya dalam menjadi PNS suatu saat nanti?

Inilah yang terjadi di kampus saya. Kampus dimana pelajarnya dididik menjadi abdi negara. Tak dapat dipungkiri kalau teman-teman saya sebagian besar adalah simpatisan dari suatu parpol. Tentang mengapa bisa begitu banyak kawan saya yang menjadi simpatisan parpol itu saya tidak tahu pasti apa penyebabnya.

Akhir akhir ini saya dan teman saya sesama mahasiswa STAN sering menerima sms dengan lambang suatu partai. Kemungkinan besar pengirim sms ini adalah mahasiswa STAN, atau penyebaran sms ini melibatkan mahasiswa dari kampus saya. Saya berpikir seperti itu karena banyak sekali mahasiswa STAN yang mendapat sms berisi serupa.

Bukankah seorang abdi negara harus netral? Bukankah seorang abdi negara tidak boleh menunjukkan dukungannya ke suatu partai? Bukankah abdi negara tidak boleh ikut berpartisipasi dalam kegiatan kampanye?

Memang, kami belum menjadi seorang abdi negara. Tetapi suatu saat kami akan menjadi abdi negara. Lalu kenapa salah satu kawan saya menyebarkan sms seperti itu? Sekarang memang belum menjadi abdi negara. Tetapi kami diharapkan akan menjadi seorany abdi negara diwaktu dekat ini.

Maka dari itu menurut saya tidak perlu seorang alumni STAN untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan kampanye suatu parpol. Netralitas dan subjektivitasnya akan dipertanyakan saat diketahui kalau ia pernah ikut ambil bagian kampanye dimasa mudanya. Semoga kawan saya yang menjadi juru kampanye tersebut bisa mempertahankan netralitasnya saat sudah bekerja nanti.

posted from Bloggeroid

Thursday, March 20, 2014

Menara Kuningan Lantai 16

Menara kuningan lantai 16. Sore hari, waktu dimana para pencari nafkah di ibukota merasa suntuk dan lelah akan kegiatannya sepanjang hari.

Di masjid suara dengkuran terdengar saling bersahutan. Layaknya suara katak di musim hujan mengundang pasangan. Bersahutan, berkelanjutan meski tak memiliki irama yang padu.

Mungkin mereka lelah.

posted from Bloggeroid

Tuesday, March 18, 2014

Waktunya merenung

Sepertinya aku terlibat terlalu jauh dalam hal ini. Baikkah hal ini untuk diriku? Benarkah yang kulakukan saat ini? Apakah aku sudah terlibat terlalu jauh dalam hal ini?

Aku perlu merenungkan hal ini. Dengan diriku sendiri. Karena hatiku memberontak. Ada sesuatu yang terasa salah saat aku bergumul dengan hal yang kusenangi ini.

Aku perlu untuk mundur sejenak. Mengamati, dari sudut pandang yang lebih luas dan menyeluruh tentang hal ini. Agar, aku bisa memutuskan hal yang baik untuk diriku. Karena menurutku perhatian yang terlalu besar kepada suatu hal bukanlah hal yang baik.

posted from Bloggeroid

Friday, March 14, 2014

Realistis, Kawan

Aku harus realistis dalam hal ini. Aku bukan siapa siapa untuknya. Baginya, aku adalah sebaris kalimat tak berarti diantara setumpuk tebal lembaran kisah hidupnya. Tak disadari.

Sebaiknya aku merubah sikap. Sebaiknya aku merubah cara memperlakukannya. Agar diriku tak makin terseret ke dalam ilusi yang indah ini. Karena sejatinya dia hanyalah satu dari jutaan faktor yang menentukan perjalanan hidupku.

Realistislah kawan. Sebelum realita menghempaskanmu ke dasar jurang penyesalan.

posted from Bloggeroid

Friday, March 7, 2014

Kota dibalik awan

Jakarta di sore hari, laksana kota yang dibalik awan. Kabut yang melingkupi kota ini, menciptakan suasana layaknya gedung-gedung di kota ini menjulang, menembus awan. Bukan sembarang kabut sayang. Kabut ini mematikan. Kabut ini berasal dari pipa gas buang kendaraan bermotor milik penduduk Jakarta yang manja & egois.