Bepergian berwisata atau berpetualang harusnya menjadi
kegiatan yang menyenangkan dan mengasyikkan. Setidaknya, itulah yang saya
pikirkan. Tetapi, satu perbuatan bodoh bisa menghancurkan rencana yang telah
kita rancang matang-matang. Membuat saya membatalkan rencana jalan-jalan, dan
langsung kembali ke tempat kos sesaat setelah saya tiba di kota tujuan saya.
Kemarin, tanggal 3 Januari saya berencana berwisata ke
Lamongan. Saya belum pernah pergi kesana sebelumnya, oleh karena itu saya cari
terlebih dahulu tempat wisata di Lamongan yang kira-kira menarik. Setelah
beberapa waktu googling, akhirnya
saya memutuskan pergi ke sebuah tempat wisata yang cukup tersohor di Jawa timur
dan belum saya kunjungi yaitu Wisata Bahari Lamongan (WBL). Pikir saya, untuk
pertama kali ke Lamongan sebaiknya pergi ke wisata yang sudah terkenal dahulu.
Baru setelah itu jika ingin berwisata ke Lamongan lagi saya akan mengunjungi
tempat wisata yang kurang diketahui. Akhirnya, saya berangkat kesana jam 9 pagi
dari kota Bojonegoro.
Saya juga sempat mencari makanan-makanan khas Lamongan yang
terkenal, seperti Soto Lamongan yang terkenal, dan pedagang penjual soto ini
menyebar di seluruh Indonesia (?) bagaikan jamur. Ada dimana saja, dapat
bertahan hidup di berbagai kondisi. Tentunya kurang lengkap kalau ke Lamongan
tapi tidak mampir mencicipi Soto Lamongan “asli” Lamongan. Kata google, Soto yang enak (dan murah) ada
di soto Cak Mardi. Waktu saya anya penduduk sekitar, mereka juga
merekomendasikan untuk makan disana. Akhirnya, setelah bertanya tempatnya makin
mantaplah saya untuk pergi ke warung soto Cak Mardi, memesan semangkok, dan
merasakan kelezatan soto asli Lamongan.
Tak berapa lama, setelah beberapa kali salah belok dan
berputar-putar saya sampai ke warung soto Cak Mardi. Terlihat ada sebuah warung
makan di tempat yang seharusnya menjadi tempat warung soto Cak Mardi, tetapi
tak ada aktivitas apapun disana. Dalam hati, saya berharap itu adalah warung
lain dan bukan warung Cak Mardi. Saya pun bertanya ke penduduk sekitar tempat
makan soto yang terkenal di sana. Sepakat beberapa penduduk yang saya tanya
menunjuk ke warung Cak Mardi, tapi hari itu tutup entah kenapa. Tutup! Ketidak
beruntungan saya pertama hari itu.
Akhirnya, saya “sarapan” di lain tempat, yaitu di sebuah
warung yang menjual tahu campur di pinggir jalur utama Pantura. Karena di
pinggir jalan utama, jadi kena harga mahal, deh. Untuk sepiring tahu campur dan
segelas es teh saya ditarik 15 ribu. Wow!
Ketidak beruntungan saya yang kedua.
Setelah makan, saya bersiap berangkat ke WBL. Namun ditengah
jalan, saya merasakan ada sesuatu yang janggal. Saya lupa apakah saya sudah
mengunci pintu kos saya. Saya cek di saku celana, baju, dan jaket tidak ada.
Tidak ada! Saya langsung cemas, jangan-jangan saya membiarkan kunci kos
tergantung di pintu kos, karena saya yakin telah mengunci pintu kos tadi. Sayapun
khawatir, jangan-jangan waktu kembali barang-barang saya sudah raib dan pintu
kos menganga bagai gua, seperti saat saya dan kawan saya kemalingan waktu
kuliah dulu. Akhirnya tanpa pikir panjang saya langsung tancap gas. Kembali ke
Bojonegoro.
Selama perjalanan, saya berusaha menepis jauh-jauh
pikiran-pikiran buruk tadi dan yakin kalau tidak ada apapun yang terjadi di
kamar kos saya selama saya tinggal pergi. “Semoga tidak ada apa-apa”, bisik
saya dalam hati. Jalan pulang ke Bojonegoro saat itu juga sedang gerimis. Sayha
jadi berpikir, mungkin gerimis saat itu adalah air mata tawa milik langit yang
terbahak-bahak menyaksikan kebodohan saya kali yaa.
Setelah menempuh sekitar 2 jam perjalanan, sayapun tiba di
kos saya. Langsung saya berlari menuju kamar kos saya. Dan, ternyata benar. Ada
sebuah kunci kecil tak berdosa yang tergantung dengan tenangnya di pintu kos
saya. Huft.Lega juga, ternyata tidak terjadi apapun di kamar kos saya.
Saya tidak tahu berapa banyak hal bodoh yang telah saya
lakukan dan seberapa bodoh hal itu. Tapi kejadian hari ini adalah salah satu
hal terbodoh yang pernah saya lakukan, jika bukan hal terbodoh yang pernah saya
lakukan.