Saturday, March 28, 2015

Hewan jangan terlalu dihewankan

Malam minggu kemarin, seperti biasa saya yang jomblo ini berjalan-jalan di keramaian kota seorang diri. Ya, seorang diri. Seperti biasanya. Ada enaknya juga kalau sendiri gini, jalan-jalan bisa seenaknya kemana-mana. Nggak perlu repot mikirin orang, nggak perlu ngebeliin orang kalo lagi jajan,nggak ada yang gangguin kalo nglamun. Pokoknya, bebas sebebas-bebasnya hahahaa.

Saya jalan-jalan ke Alun-alun  (anggap saja) Kota Bojonegoro. Saya penasaran kayak apa sih alun-alun di kota ini. Ternyata rame. Banget. Banyak hal yang ada disini. Mulai dari tempat nongkrong dan bergaul, tempat muda-mudi pacaran, tempat orang tua ngajak main anaknya karena banyak wahana seperti pasar malam, dan berbagai komunitas tumplek blek disana.

Di sudut alun-alun, saya dengar suara-suara unik. Seperti gamelan tapi bukan, kuda lumping nggak juga, reyog ya nggak mungkin. Lha wong ini Bojonegoro, bukan Ponorogo. Usut punya usut, ternyata itu suara topeng monyet. Ledek Kethek bahasa Jawanya. Dan nggak cuma satu, saya tahu ada 4 pertunjukan topeng monyet di seluruh alun-alun Bojonegoro malam itu. 

Dari dulu saya nggak suka topeng monyet. Saya nggak pernah bisa menemukan kelucuan di tingkah laku monyet itu. Cuma naik sepeda, pake payung, mukul gendang. Gitu- gitu aja. Bukan hal yang menarik buat saya. Yang makin bikin saya nggak suka, sejak saya menyadari ada rantai yang diikatkan di leher si monyet dan ditarik sama majikannya sesuka hati.

Belenggu. Si monyet dibelenggu oleh kemauan si majikan dan hanya boleh bergerak jika dilihat perlu oleh majikannya. Si monyet ditarik-tarik, ke arah mainannya yang bukan untuk mainan dia. Lebih cocok disebut alat atraksi bukan mainan. Si monyet sudah piawai menggunakan alat atraksi itu, dan kadang ditariknya rantai itu kemari oleh majikan monyet sehingga terlihat lucu dimata orang yang melihat. Kecuali saya. Saya nggak tahu gimana latihan yang dijalani si monyet sampai bisa menggunakan alat atraksinya begitu terampil dan bukan latihan yang baik yang ada di benak saya. Semoga bayangan saya salah.

Waktu si majikan akan pindah tempat, si monyet yang mau istirahat terus ditarik oleh majikannya sampai ia mau bergerak dan mengikuti si majikan. Saat si monyet telah menyelesaikan atraksinya ia nggak langsung diberi makanan. Ia dipancing-pancing dahulu supaya loncat-loncat. Mungkin biar kelihatan lucu. Kemudian setelah agak lama baru diberi makanan oleh si majikan.

Monyet-monyet ini adalah budak kita. Budak si pawang untuk memperoleh penghasilan, juga budak kita yang menonton supaya kita terhibur, tertawa, dan merasa senang hati. Pikir kita semua, apalah artinya seekor monyet, yang penting kebutuhanku terpenuhi. Yang penting aku memperoleh uang dari pertunjukannya. Yang penting aku terhibur dan merasa senang menonton pertunjukannya. Dia ngerasa sengsara sedikit nggak masalah lah. Kan aku manusia. Kan aku khalifah di bumi ini. Makhluk lain harus menuruti kemauanku.

Semoga kita semua bisa jadi lebih manusia. Semoga kita nggak terlalu menghewankan hewan sekalipun. Semoga monyet-monyet itu nggak terlalu diperlakukan terlalu monyet sama manusia pemiliknya. Semoga anggapan saya yang terakhir tadi salah.

Ah, saya jadi inget waktu saya jalan-jalan ke pemandian Bektiharjo, Tuban. Disana banyak monyet berjenis serupa yang hidup bebas, lompat-lompat kesana kemari sesukanya. Rasanya, saya pingin menculik monyet-monyet di alun-alun Bojonegoro kemarin malam dan saya bawa lari ke pemandian Bektiharjo sana. Kepingin saya lepas monyet-monyet itu biar mereka bisa melopat-lompat, istirahat, makan, dan beratraksi lainnya tanpa persetujuan majikan si monyet. Tanpa kerangkeng di leher mereka.


Monday, March 2, 2015

Kesatria Pembelah Kabut

Dini hari ini, di kota yang diselimuti kabut
Kutumpangi kuda besiku
Kukenakan baju zirahku
Laksana kesatria kubelah kabut ini
Menuju tanah rantau, untuk mengais rejeki yang nilainya tak seberapa
Akulah sang kesatria berbaju zirah yang menaklukkan kabut yang memeluk jalanan Madiun-Bojonegoro
Akulah kesatria berzirahkan jas hujan, berkuda besi motor matic, bersenjatakan lampu dim motor
Kubelah dan kutaklukkan kabut tebal itu

Selamat pagi

posted from Bloggeroid

Thursday, February 19, 2015

Tanggal merah

Pagi hari di KPP Pratama Bojonegoro
Kubuka excel dan aplikasi pajak
Didalam kantor sepi
Ku tak biasa melihat wajah kantorku dari sisi ini
Wajah yang kutahu, hanya wajah hiruk pikuk dan berjubel
Wajah sibuk kantor, demi menghimpun penerimaan negara

Pagi hari di KPP Bojonegoro
Disaat pegawai lain menikmati nyamannya tempat tinggal
Kami disini, mengorbankan waktu istirahat kami
Untuk sekedar sebuah pengabdian

Pagi hari di KPP Bojonegoro
Pagi yang ceria
Kutemukan canda, tawa, semangat, dan pengabdian para punggawa penerimaan negara

Lembur ceria
Asal tak setiap saat

Saturday, February 7, 2015

Pengajian Tombo Ati 08 Februari 2015


Pemateri: Ustadz Yogi Pradana


Sifat dan perbuatan yang harus dihindari dalam hidup sebagai seorang muslim.
Pertama, adalah iri dan dengki. 2 hal ini secara bersamaan adalah penyakit hati. Jika kita memilikinya, kita akan sulit untuk hidup bahagia dan menikmati kebahagiaan yang telah dimiliki. Kita akan selalu menderita dan timbul rasa tidak senang jika ada orang yang mendapati kebahagiaan, alih-alih ikut senang. Yang bisa dilakukan jika kita terindikasi mengalami hal ini dalam hidup, adalah dengan bersyukur. Mensyukuri segala rejeki yang kita miliki. Dengan bersyukur, kita akan selalu merasa cukup dengan apa yang kita miliki. Jika kita telah merasa cukup, InsyaAllah kita tak akan ikut ingin memiliki apa yang didapat orang lain. Hati kita akan bebas dari rasa iri dan dengki yang bersarang di dalam hati dan InsyaAllah kita akan dapat hidup lebih bahagia.

Yang perlu dihindari berikutny adalah suudzon. Prilaku ini perlu dihindari, karena jika kita suudzon kepada orang lain, maka ukhuwah, atau persaudaraan antara kita dengan orang yang kita suudzon-i juga bisa rusak. Kita bisa membenicinya, dan ujung-ujungya kita jadi tak pernah mau lagi bertegur sapa dengannya. Cara menghindarinya, yaitu bisa dengan cara mencari kebaikan dari orang yang kita benci itu. Tapi jika sudah kadung benci, kita akan kesulitan untuk mencari kebaikan. Justru yang kelihatan hanya keburukannya.

Jika begini, kita lihat saja keburukan yang kita miliki dan pernah kita lakukan kepada orang yang kita benci. Mungkin saja kita merasa tak pernah melakukan keburukan kepadanya, atau jika pernah kita merasa wajar saja. Dia pantas menerima perlakuan kita itu. Wah, susah jika begini. Sebaiknya jika begini kita mengalah kepada orang yang kita tak sukai itu, jangan terus menyalahkannya. Jika kita mengalah, InsyaAllah masalah akan cepat selesai dan kita tak akan menyimpan penyakit hati.

Misalnya, jika ada pak A memelihara ayam dan pak B sedang menjemur padi.  Tak lama. Ayam pak A memakan padi jemuran pak B. Pak B pun marah-marah ke pak A. Menurut pak B pak A tak seharusnya membiarkan ayamnya berkeliaran. Harusnya ayamnya dikandangkan olah pak A begitu tahu pak B sedang menjemur padi. Pak A tak terima. Ia merasa sudah lama memelihara ayam, dan harusnya pak B tak menjemur padi didepan rumahnya karena tahu pak A memelihara ayam. Sama-sama tak mau mengalah dan tak mau disalahkan, akhirnya merusak hubungan mereka. Jika pak A mengaku salah karena tak mengandangkan ayamnya, dan pak B juga negaku salah karena menjemur padinya di rumahnya yang notabene banyak ayam berkeliaran, maka masalah akan selesai. Jika mereka berdua sama-sama mengalah, maka mereka berdua akan sama-sama menang dalam masalah ini. Alangkah indahnya. Subhanallah.

Sebuah cerita tentang iri, dengki dan suudzon tentang Khalifah Ali. Pada zaman Khalifah Ali, beliau pernah difitnah oleh seorang Yahudi yang iri dan dengki kepada beliau. Tapi beliau tak merasa melakukannya, lalu dibawa ke persidangan. Namun seorang yahudi tersebut telah mensuap seorang saksi untuk bersaksi palsu. Sementara khalidah Ali tak dapat mnghadirkan. Seorangpun saksi untuk menyangkal tuduhan kepadanya. Akhirnya, hakim pengadilan (yang dilantik olah khalifah, dalam hal ini Ali) tetap memvonis bersalah khalifah Ali. Ali pun menerima vonis itu dengan lapang dada dan tak ber suudzon kepada yang memfitnah dan saksi yang dihadirkan tersebut.

Melihat hal tersebut, si yahudi pemfitnah tadi pun heran dan bertanya kepada Ali kenapa ia tak menggunakan kekuasaannya sebagai khalifah (setingkat presiden) untuk mengatur pengadilan. Ali menjawab, inilah Islam. Hukum islam berlaku mutlak dan tak pandang bulu kepada siapapun termasuk kepala pemerintahan. Karena dalam pengadilan ia tak mampu menghadirkan seorangpun saksi, maka ia pantas kalah. Mendengarnya, si yahudi pemfitnah tadipun mengaku bersalah kepada Ali dan sejak saat itu ia masuk Islam. Subhanallah.

Yang harus dihindari berikutnya, Khamr atau minuman yang memabukan. Oleh karena itu, keputusan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel untuk melarang dijualnya minuman beralkohol di minimarket patut diapresiasi. Alasan menteri Gobel juga sangat bagus. Cukai yang diperoleh dari minuman beralkohol memang sangat banyak, setahun sampai 7 triliun. Tapi menteri Gobel tak mau merusak generasi muda lebih jauh lagi. Pikirnya, lebih baik kita kehilangan penerimaan 7 trilliun setahun daripada rusaknya kehidupan generasi muda penerus bangsa. Sungguh patut diapresiasi.

Ada juga cerita jaman rasul, seorang pemuda ahli agama. Ia rajin pergi ke masjid, fasih membaca Al Qur’an, dan tingkah lakunya sangat baik. Ia kemudian menyukai seorang wanita. Wanita yang disukainya tahu. Wanita ini memang bukan wanita baik-baik. Ia kemudian mengajak pemuda itu masuk rumahnya. Disana, pintunya ditutup kemudian dikunci. Tak ada jalan keluar untuk pemuda itu. Pemuda itu memiliki 3 pilihan untuk keluar. Pertama, membunuh bayi dari wanita itu yang bapaknya tidak jelas, kedua berzina dengan wanita itu, atau ketiga meminum khamr yang telah disediakan. Pemuda itu berpikir, perbuatan yang paling tidak keji, dan paling bisa ia lakukan adalah meminum khamr. Pemuda itupun meminumnya. Mabuklah ia akibat meminum khamr itu. Akibatnya, dalam mabuknya ia membunuh bayi yang tak berdosa tersebut, dan  berzina dengan wanita itu. Ia melakukannya secara tidak sadar, dalam mabuknya. Oleh sebab itu, sebaiknya kita hindari jauh-jauh khamr itu karena mabuk akibat meminum khamr itu dapat membuat kita melakukan perbuatan-perbuatan keji dalam mabuk itu.

Perbuatan yang harus dihindari selanjutnya adalah Judi. Dalam judi, sesungguhnya tak ada yang menang. Yang menang adalah bandar judi tersebut. Karena ialah yang mendapat untung dari setiap perbuatan judi yang dilakukan. Harta dari judi itupun biasanya akan segera habis. Sebanyak apapun harta yang dimenangkan itu. Pelaku judi, biasanya jika sudah menang sekali ia akan kecanduan untuk mengikuti judi itu. Jika sudah kecanduan, bisa-bisa ia akan menghabiskan dan menguras harta kekayaan miliknya untuk mengikuti judi itu. Tak jarang pula ditemui orang yang kehabisan hartanya dan memiliki hutang yang menggunung akibat terlalu asyik bermain judi. Oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang muslim menghindari judi karena hanya akan memberi petaka.

Amal yang perlu sering dilakukan oleh seorang muslim salah satunya adalah berzikir. Berzikir ini penting sekali. Dengan berzikir, kita mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, kita akan dijauhkan dari perbuatan-perbuatan keji yang dapat kita lakukan. Dengan mengingat Allah pula, kita akan terpacu untuk melakukan ibadah-ibadah untuk memuja dan menyembah Alah swt. Oleh sebab itu, sebaiknya kita perbanyak zikit yang kita baca tiap hari, agar kita semakin dekat dengan Allah dan dijauhkan dari perbuatan-perbuatna yang keji dan tercela. Amin.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Saya juga belum bisa melaksanakan semua yang saya tuliskan ini. Saya hanya berniat meneruskan nasihat dan pelajaran dari pengajian Tombo Ati kepada semua orang yang membaca blog ini.
Wassalam.





Monday, January 12, 2015

Satu hal bodoh mengacaukan segalanya...



Bepergian berwisata atau berpetualang harusnya menjadi kegiatan yang menyenangkan dan mengasyikkan. Setidaknya, itulah yang saya pikirkan. Tetapi, satu perbuatan bodoh bisa menghancurkan rencana yang telah kita rancang matang-matang. Membuat saya membatalkan rencana jalan-jalan, dan langsung kembali ke tempat kos sesaat setelah saya tiba di kota tujuan saya.

Kemarin, tanggal 3 Januari saya berencana berwisata ke Lamongan. Saya belum pernah pergi kesana sebelumnya, oleh karena itu saya cari terlebih dahulu tempat wisata di Lamongan yang kira-kira menarik. Setelah beberapa waktu googling, akhirnya saya memutuskan pergi ke sebuah tempat wisata yang cukup tersohor di Jawa timur dan belum saya kunjungi yaitu Wisata Bahari Lamongan (WBL). Pikir saya, untuk pertama kali ke Lamongan sebaiknya pergi ke wisata yang sudah terkenal dahulu. Baru setelah itu jika ingin berwisata ke Lamongan lagi saya akan mengunjungi tempat wisata yang kurang diketahui. Akhirnya, saya berangkat kesana jam 9 pagi dari kota Bojonegoro. 

Saya juga sempat mencari makanan-makanan khas Lamongan yang terkenal, seperti Soto Lamongan yang terkenal, dan pedagang penjual soto ini menyebar di seluruh Indonesia (?) bagaikan jamur. Ada dimana saja, dapat bertahan hidup di berbagai kondisi. Tentunya kurang lengkap kalau ke Lamongan tapi tidak mampir mencicipi Soto Lamongan “asli” Lamongan. Kata google, Soto yang enak (dan murah) ada di soto Cak Mardi. Waktu saya anya penduduk sekitar, mereka juga merekomendasikan untuk makan disana. Akhirnya, setelah bertanya tempatnya makin mantaplah saya untuk pergi ke warung soto Cak Mardi, memesan semangkok, dan merasakan kelezatan soto asli Lamongan. 

Tak berapa lama, setelah beberapa kali salah belok dan berputar-putar saya sampai ke warung soto Cak Mardi. Terlihat ada sebuah warung makan di tempat yang seharusnya menjadi tempat warung soto Cak Mardi, tetapi tak ada aktivitas apapun disana. Dalam hati, saya berharap itu adalah warung lain dan bukan warung Cak Mardi. Saya pun bertanya ke penduduk sekitar tempat makan soto yang terkenal di sana. Sepakat beberapa penduduk yang saya tanya menunjuk ke warung Cak Mardi, tapi hari itu tutup entah kenapa. Tutup! Ketidak beruntungan saya pertama hari itu.

Akhirnya, saya “sarapan” di lain tempat, yaitu di sebuah warung yang menjual tahu campur di pinggir jalur utama Pantura. Karena di pinggir jalan utama, jadi kena harga mahal, deh. Untuk sepiring tahu campur dan segelas es teh saya ditarik 15 ribu. Wow!

Ketidak beruntungan saya yang kedua.

Setelah makan, saya bersiap berangkat ke WBL. Namun ditengah jalan, saya merasakan ada sesuatu yang janggal. Saya lupa apakah saya sudah mengunci pintu kos saya. Saya cek di saku celana, baju, dan jaket tidak ada. Tidak ada! Saya langsung cemas, jangan-jangan saya membiarkan kunci kos tergantung di pintu kos, karena saya yakin telah mengunci pintu kos tadi. Sayapun khawatir, jangan-jangan waktu kembali barang-barang saya sudah raib dan pintu kos menganga bagai gua, seperti saat saya dan kawan saya kemalingan waktu kuliah dulu. Akhirnya tanpa pikir panjang saya langsung tancap gas. Kembali ke Bojonegoro.

Selama perjalanan, saya berusaha menepis jauh-jauh pikiran-pikiran buruk tadi dan yakin kalau tidak ada apapun yang terjadi di kamar kos saya selama saya tinggal pergi. “Semoga tidak ada apa-apa”, bisik saya dalam hati. Jalan pulang ke Bojonegoro saat itu juga sedang gerimis. Sayha jadi berpikir, mungkin gerimis saat itu adalah air mata tawa milik langit yang terbahak-bahak menyaksikan kebodohan saya kali yaa.

Setelah menempuh sekitar 2 jam perjalanan, sayapun tiba di kos saya. Langsung saya berlari menuju kamar kos saya. Dan, ternyata benar. Ada sebuah kunci kecil tak berdosa yang tergantung dengan tenangnya di pintu kos saya. Huft.Lega juga, ternyata tidak terjadi apapun di kamar kos saya.

Saya tidak tahu berapa banyak hal bodoh yang telah saya lakukan dan seberapa bodoh hal itu. Tapi kejadian hari ini adalah salah satu hal terbodoh yang pernah saya lakukan, jika bukan hal terbodoh yang pernah saya lakukan.