Wednesday, December 31, 2014

Tak paham tahun baru



Saya tak paham, apa yang dirayakan saat tahun baru.  Jutaan orang, atau bahkan ratusan juta orang yang merayakannya. Tapi saya tak mengerti apa yang bisa dirayakan dan dijadikan bahan untuk bersuka cita saat tahun baru. Tapi bukan berarti saya menunjuk-nunjuk kafir, bid’ah, laknatullah untuk yang merayakannya.  Saya hanya tak mengerti apa yang dirayakan. Apa yang membuat orang-orang bespesta pora, konvoi sepeda motor, dan menghabiskan banyak uang untuk kmerayakanya. Karena saya bukanlah orang pintar, maka wajarlah hal seperti ini saya tak paham.

Malam pergantian tahun. Sepertinya kok tidak berbeda dengan malam hari biasa ya. Sore harinya, matahari terbenam di pukul 17.45 (sekitar itulah, saya tidak hafal hehehe), tetap gelap, bulan muncul dan hari berikutnya matahari terbit sekitar pukul 5.00. Tidak kurang dan tidak lebih. Bukankah kita tiap hari mengalami hari itu? Hanya saja,  kebetulan bertepatan dengan tanggal 31 Desember. Tapi tanggal 31 Desember dirayakan dan tanggal-tanggal lainnya tidak dirayakan. Saya tidak tahu kenapa.
Semangat baru, harapan baru, awal baru. Bukankah kita tiap hari mendapat awal baru? Setiap kita bangun tidur, itu adalah awal baru bagi kita. Harapan baru agar kita bisa menjadi lebih baik dari hari kemarin. Memulai sesuatu yang baik tak perlu menunggu sampai tahun berganti. Memulai usaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik & memuliakan nasib tak perlu menunggu pergantian kalender terlebih dahulu. 

Bergantinya tahun, otomatis jumlah tahun menjadi lebih banyak. Sebanding dengan usia kita. Usia kita pun bertambah. Sebaiknya kita mengevaluasi diri kita, sudahkah jadi lebih baikdari tahun lalu, ataukah lebih buruk, dan sebaiknya merencanakan sesuatu, hal sekecil apapun agar bis ajadi pribadi yang lebih baik kedepannya. Selain itu, sejalan dengan bertambahnya jumlah taun jumlah usia kita jugabertambah. Yang artinya kita menjadi lebih tua dan setahun lebih dekat menuju kematian dibanding setahun lalu. Sudahkah kita mempersiapkannya dengan sebaik-baiknya? Sudahkah kita mengisi hidup dengan hal-hal bermanfaat? Pertanyaan bagi kita semua termasukdiri saya sendiri.
Selain itu, sudah menjadi hal yang lumrah bila tahun baru dirayakan dengan konvoi keliling kota menggunakan knalpot sepeda motor yang memekakkan telinga. Ditengah jalan konvoi itupun gas diblayer-blayer (digas-gas tanpa menjalankan motor, agar terdengar suara keras, saya tidak tahu bahasa Indonesia nya hehe). Membakar dan maenghabiskan bensin tanpa tujuan yang jelas. Disaat pemerintah menaikkan harga bensin, mereka menghujat, menjelek-jelekkan, dan membodoh-bodohkan pemerintah. Tapi disaat seperti ini mereka tetap membuang-buang bensin untuk hal yang tak berguna. Saya tidak paham.

Sekali lagi, saya menulis ini bukannya saya menunjuk sesat, kafir, ikutan budaya orang kafir kepada yang merayakan. Semua itu pilihan untuk ikut merayakan atau tidak. Saya tak paham apa yang perlu dirayakan di malam pergantian tahun jadi saya tak ikutan merayakan. 

Saya bukan orang pintar, jadi saya tak paham hal begini.

Tuesday, December 30, 2014

Kalau STAN juga ada di Russia...



Sekedar mikir, gimana kalau ada sekolah yang semacam STAN di Russia sana. Semacam STAN, mulai dari penerimaannya, dan sebaran penempatannya yang dimana mahasiswanya harus bersedia ditempatkan diseluruh Russia. Ya, di Seluruh Russia, yang berbatasan dengan Finlandia sampai Korea Utara!

Siapapun pemuda dari seluruh penjuru Russia boleh mengikuti ujian masuknya, dan pendidikan dilaksanakan di ibukota negara, Moskow.  Dan setelah lulus akan ditempatkan di seluruh penjuru Russia.Mulai dari sekitaran Moskow, Novosibrisk (kota besar di Siberia), sampai Vladivostok (kota paling timur di Russia, yang punya akses ke Laut Jepang dan dekat dengan perbatasan Korea Utara.
Jika ada instansi seperti DJP atau DJPb, maka sang alumni STAN versi Russia asal Moskow bisa  punya kesempatan mendapat penempatan di  Vladivostok. Beda benua. Mungkin dia akan pulang kampung hanya setahun 2 kali atau hanya sekali mengingat jarak yang sangat jauh (walaupun Vladivostok bukanlah remote area).
 
Bisa saja pemuda ini mendapat penempatan di remote area versi  Russia yang mungkin letaknya di Sibieria utara, di sekitar kutub.  Sudah pelosok, suhu kurang dari 00 Celsius. Kerja setiap hari memakai jaket yang sangat tebal untuk melawan dingin yang menusuk tulang. Belum lagi kalo ketemu beruang kutub waktu mau penyuluhan ke desa-desa sekitar.

Poinnya adalah, bersyukur dengan apa saja yang telah diberikanTuhan kepada kita. Diluar sana masih banyak yang tak seberuntung kita dan ingin berada di posisi kita. Karena Tuhan mengetahui apa apa saja yang terbaik untuk kita. Walaupun kita memandangnya tak terlalu indah, tapi dibalik hal itu pasti ada sesuatu yangbisa disyukuri. Apapun milik anda saat ini, syukurilah.

Sunday, December 28, 2014

Comeback...?



Sudah lama blog ini nggak difungsikan. Okelah, setelah ini akan difungsikan lagi buat menampung tulisan-tulisan nggak jelas saya. Tentang kerjaan, petualangan, tentang diri sendiri, atau tentang apapun. Nggak tau ada yang mau baca atau nggak yang penting nulis dulu hehehe.

Saya ingin merutinkan kebiasaan nulis di blog. Paling nggak sebulan sekali saya upload satu tulisan di blog ini. Entah itu coretan jelas atau nggak, penting atau nggak, bagus atau nggak. Yang penting bisa merutinkan kebiasaan menulis heuheuheu.

Bukan semacam resolusi tahun baru sih (karena kebetulan ini ditulis waktu hampir tahun baru) tapi lagi pingin aja merutinkan kegiatan nulis. Siapa tau ada yang pingin tau saya tapi susah karena saya orangnya introvert. (Siapa jugaaa emangnyaaa yang mau tau)

Tuesday, August 5, 2014

Nyaris Ketinggalan Kereta

Beberapa minggu lalu, saya habis "berlibur" di ibukota Jakarta selama kurang lebih sebulan. Kegiatan disana antara lain pergi ke Ennichisai blom M, belanja di Jakcloth, dan jalan jalan. Intinya, disana saya hanya ngabis-ngabisin duit.

Saya sebenarnya berniat disana selama seminggu tetapi saya kehabisan tiket kereta. Setelah mencari saya baru bisa mendapatkan tiket sekitar 3 minggu setelahnya, karena waktu itu musim liburan. Apa boleh buat, daripada tak mendapat tiket saya beli saja tiket itu. Tiket yang saya beli adalah tiket kereta api ekonomi matarmaja jurusan Jakarta-Malang. Saya sendiri turun di Madiun. Ada pengalaman lucu, menyebalkan sekaligus melegakan saat saya akan menaiki kereta ini.

Kereta itu berangkat pukul 15.00 dari stasiun Pasar Senen. Saya sendiri baru berangkat dari kos di Bintaro pada pukul 12.30. Sebenarnya saya mengincar kereta commuter pukul 13.00 yang berangkat ke stasiun Tanahabang. Tapi saya terlambat datang dan saat saya datang, kereta yang saya incar berangkat didepan mata saya. Akhirnya saya baru bisa mendapat kereta yang menuju ke Tanahabang pada pukul 13.30.

Saya tiba di stasiun Tanahabang sekitar pukul 13.45. Karena saya tidak tahu kereta mana yang menuju stasiun Pasar Senen maka saya bertanya kepada petugas disana. Kata petugas disana, kereta commuter tak berhenti di stasiun Pasar Senen. Untuk ke sana, saya harus berhenti di stasiun setelah Pasar Senen yaitu stasiun Gang Sentiong lalu naik commuter lagi yang menuju stasiun Pasar Senen. Saya mulai merasa tidak enak. Bisakah saya ke Pasar Senen tepat waktu? Mengingat saya harus transit di stasiun Gang Sentiong dan oper commuter line terlebih dahulu.

Tanpa buang-buang waktu saya langsung menaiki commuter yang menuju Pasar Senen. Ternyata benar adanya. Commuter line yang saya naiki tak berhenti saat melewati stasiun Pasar Senen. Maka semakin cemaslah saya, apakah saya bisa naik kereta Matarmaja tepat waktu.

Singkat cerita saya tibalah di stasiun Gang Sentiong. Apesnya, jarang sekali ada commuter line yang menuju Pasar Senen. Ada 2 kereta api kelas bisnis lewat, tapi tak berhenti disana. Saya makin panik. Akhirnya, tiba juga commuter line yang ke arah Pasar Senen. Tanpa pikir panjang sayapun langsung masuk ke gerbong penumpang commuter itu. Di dalam commuter pun, saya sudah memikirkan langkah-langkah apa saja yang akan saya lakukan kalau saya nantinya ketinggalan kereta di stasiun Pasar Senen.

Akhirnya saya tiba di stasiun Pasar Senen. Saat saya turun pula ada pengumuman mengejutkan di stasiun. Pengumuman itu kira-kira "Bagi anda penumpang kereta api Matarmaja harap segera menaiki kereta karena kereta akan segera diberangkatkan 5 menit lagi." Sontak sayapun berlari karena saya belum menukar tiket, karena saya membeli tiket secara online jadi saya perlu menukarkan bukti bayar dengan tiket terlebih dahulu di stasiun. Ternyata selain saya ada beberapa orang selain saya yang juga hampir ketinggalan. Kami berlarian, bagai dikejar serigala untuk mengejar kereta.

Sampai di pintu, saya terkejut karena teman seperjuangan saya berlari semua langsung berbelok masuk ke stasiun. Mereka semua sudah punya tiket! Tinggalah saya sendiri kebingungan karena belum punya tiket.

Saya pun bertanya petugas, "Pak, peron dimana?"
"Oh disana mas, dipojokan."
"Ya, makasih pak."
"Lah belum ada tiket mas?"
"Belum pak"
Sepertinya bapak tadi mengamati saya dengan iba tapi saya tak pedulikan dan langsung berlari menuju peron.

Di peron masalah belum selesai. Saya tidak tahu mana kode yang harus dimasukkan! Saya masukkan kode yang kira-kira benar tapi ternyata bukan itu! Sayapun panik. Untungnya ada bapak petugas yang berbaik hati menunjukkan mana yang harus saya inputkan kodenya. Akhirnya saya mendapatkan tiket saya. Tiket yang entah bisa saya pakai atau tidak. Setelah itu sekuat tenaga saya berlari menuju pintu masuk.

Di pintu masuk, melihat saya berlari sambil putus asa petugas pintu masuk pun tak memeriksa tiket saya dan langsung mempersilakan saya masuk. Petugas keamanan pun ikutan memberi saya semangat untuk berlari. Sayapun mulai dapat melihat kereta Matarmaja, tetapi kereta itu sudah mulai melaju dan saya dapat melihat kereta barang yang menjadi gerbong terakhir.

Sayapun semakin memacu lari saya. Sekencang kencangnya. Sampai paru-paru lelah bernapas. Dibelakang saya, orang-orang bersorak menyemangati saya mengejar kereta, bak sebuah sinetron.

Dengan terus berlari sekuat tenaga, sayapun mampu mencapai gerbong penumpang yang pintunya telah tertutup. Saya gedor tak ada jawaban, saya tarik tak bisa. Apa sudah dikunci? Pikir saya panik. Tapi saya baru ingat saya belum coba mendorong pintu itu kedalam. Saya dorong pintu itu.

Pintu gerbong itupun terbuka!

Sayapun langsung meloncat kedalam gerbong.

Saya bisa naik kereta!

Rasanya begitu lega, setelah dirundung kecemasan, gelisah dan setelah ngos-ngosan berlari ini adalah saat yang melegakan dan membahagiakan.

Diatas kereta saya sempat bertanya ke petugas kebersihan kereta dimana letak gerbong saya.
"Pak gerbong di tiket ini dimana ya?"
"Oh ini didepan sana mas, paling depan."
"Oh gitu. Makasih pak."
"Kok ngos-ngosan mas?"
"Iya pak, saya tadi habis lari ngejar kereta ini pak."
"Oh yang tadi rame-rame itu ya mas?"
"Iya pak," jawab saya sambil tersipu.

Saat saya menuju ke gerbong saya, sebagian penumpang di gerbong yang saya lewati melihat saya sambil tersenyum seperti habis melihat hal yang lucu. Memang hal yang lucu melihat orang terburu-buru mengejar kereta yang sedang berjalan. Tapi sekaligus menyebalkan karena saya yang harus berlarian mengejar kereta dan menggembirakan karena saya akhirnya bisa naik kereta walaupun kereta itu sedang berjalan meninggalkan saya.

posted from Bloggeroid

Friday, May 30, 2014

Resensi film Godzilla

Saya menonton film godzilla ini di bioskop bintaro xchange mall, beda dari biasanya di bintaro plasa. Disini kapasitas bioskopnya kecil, lebih kecil dari XXI Bintaro Plasa. Entah supaya lebih eksklusif atau supaya nggak makan tempat. Harga tiket waktu saya nonton juga berbeda. Karena waktu saya nonton di hari kejepit jadi dianggap hari jumat. Lebih mahal deh.

Lanjut ke resensi film. Film ini diproduksi Legendary Picture, yang memproduksi Pacific Rim, film tentang monster juga. Tapi beda dengan Pacific Rim, Godzilla tak terlalu menitik beratkan di grafis visual pertempuran monster. Tapi lebih ke pengembangan cerita karena wujud monster disini menurut saya termasuk jarang muncul.

Dari segi cerita, menurut saya biasa saja. Tak ada twist atau kejutan yang berarti pada cerita film ini. Saya tak terlalu terkesan pada pengembangan ceritanya. Sepertinya disini yang ditekankan adalah pada perjuangan manusia menghadapi bencana monster, ketimbang berpangkutangan menunggu Godzilla menghabisi monster monster lawannya.

Dari segi aktornya, saya merasa pemeran utama disini (lupa namanya hehehe) kurang. Aktingnya kurang bagus. Selain itu pekerjaan pemeran utama disini adalah seorang tentara dan si pemerannya terlihat kurang tegas saat menjadi tentara sehingga kurang memiliki kharisma. Diluar itu saya rasa pemeran lainnya cukup baik dalam berakting.

Dari segi grafis tidak usah ditanya lah ya. Grafis monster disini sangat memukau dan begitu detail. Godzilla dan MUTO terlihat begitu nyata dan mengerikan. Godzilla disini sangat mirip dengan Godzilla Jepang tak seperti Godzilla 99 yang seperti kadal. Ini saya suka. Tapi saya jadi agak kecewa juga karena pertempuran monsternya terjadi begitu singkat.

Overall kalau anda pecinta film monster, film ini wajib ditonton. Grafisnya memukau dan Godzilla yang legendaris itu di-remake pada grafis yang lebih modern sehingga ia menjadi terlihat lebih menyeramkan, lebih kuat, dan juga lebih gagah. Sepertinya besarnya juga bertambah dari film sebelumnya. Tapi kalau anda suka film yang memiliki cerita kompleks maka anda tak akan menemuinya di film ini. Tetap saja, saya menikmati menonton film ini.

posted from Bloggeroid

Wednesday, May 21, 2014

Review Marmut Merah Jambu

Sebenarnya saya kurang suka dengan genre film komedi atau cinta seperti ini. Tetapi karena teman saya mengajak untuk nonton film ini jadi ya saya mau aja. Selain itu di film ini ada Franda dan Sonya Pandarmawan, artis yang saya suka hehehe.

Lelucon yang dipakai di film ini lucu dan segar, bisa membuat penonton tertawa terbahak bahak. Saya pun ngakak nonton film ini. Komedi di film ini mantap lah.

Pemeran di film ini juga bagus, apalagi tiga sekawan waktu SMA walaupun ini film pertama mereka tapi akting mereka cukup baik. Yang kurang cocok menurut saya Kamga yang berperan jadi Bertus dewasa. Terlalu kalem, kurang gokil. Oh iya kalau ingin melihat Franda di film ini jangan berharap banyak hehehe.

Dari cerita disini biasa saja. Tak ada yang spesial. Datar. Mungkin karena ini film komedi jadi cerita tak terlalu diperhitungkan.

Secara keseluruhan film ini cukup menghibur. Karena ini film komedi jadi cerita tak perlu yang berat berat jadi bisa dipahami. Kalau ingin menonton film yang mengibur bersama keluarga atau mungkin pacar film ini dapat dijadikan alternatif.

posted from Bloggeroid

Monday, April 21, 2014

Bangun pagi vs Bangun siang?

Setiap orang punya kebiasaan tidur yang berbeda-beda. Ada yang suka tidur cepat dan bangun pagi. Ada juga yang suka begadang, tidur pagi dan bangun siang hari. Yah, itu pilihan dan setiap orang memiliki kebiasaan masing-masing.

Sebenarnya menurut saya dua kebiasaan itu sama saja jika dilihat dari waktu terjaga nya. Waktu terjaga disini maksud saya adalah waktu bangun tidak tidur dan beraktifitas. Jika yang tidur malam dan bangun pagi misal tidurnya jam 10 atau jam 11 dan bangun jam 5 seperti yang saya lakukan, maka orang itu dalam sehari menghabiskan waktu 6-7 jam untuk tidur. Sementara yang tidur pagi bangun siang, berdasarkan pengamatan saya, mereka tidur 7-8 jam sehari dengan tidur jam 3-4 dan bangun jam 11-12. Sama saja, malah cenderung lebih lama. Sesuatu yang tak bisa saya lakukan.
Hal mengenai pola tidur ini merupakan pilihan dan kebiasaan tiap individu. Sebenarnya saya pernah tidur dengan pola tidur pagi bangun siang, tapi saya merasa tak cocok kemudian saya merubah pola tidur saya. Akhirnya saya lebih suka bangun pagi karena menurut saya keuntungannya lebih banyak.

Keuntungan pertama, dengan bangun pagi saya bisa melaksanakan sholat subuh. Syukur-syukur berjamaah di masjid. Sebelum ini saat saya masih suka tidur pagi saya hampir selalu kelewatan melaksanakan sholat subuh karena selalu bangun siang.

Keuntungan kedua, menurut saya bangun pagi lebih sehat. Hal ini karena saat bangun pagi saya merasa segar, sementara saat bangun siang saya merasa lelah pada tubuh saya. Entah karena jam biologis tubuh tertukar saat beristirahat dan beraktifitas atau kenapa saya tidak tahu. Yang jelas saya merasa lebih segar dan tidur lebih berkualitas jika bangun pagi.

Keuntungan ketiga, saya dapat melaksanakan kegiatan yang menyehatkan jika bangun pagi, seperti jogging dll. Suatu yang tak pernah bisa saya lakukan saat bangun siang.

3 alasan itu cukup untuk membuat saya membiasakan diri tidur malam dan bangun pagi. Saya juga merasa lebih sehat dengan bangun pagi. Yuk bangun pagi yuk!

posted from Bloggeroid

Tuesday, April 1, 2014

Review the Raid 2

The Raid 2 seperti prekuelnya The Raid adalah film Indonesia bergenre action. Seperti pendahulunya juga, The Raid 2 menyuguhkan aksi bertukar pukulan pemainnya yang berlumuran darah dan sadis. Pantas saja film ini dipertunjukkan untuk dewasa karena isinya dipenuhi cipratan darah dan adegan sadis yang sangat mengerikan.

Dari aktor yang membintangi film ini, film seri kedua lebih bertabur bintang dari seri pertama. Jika seri pertama saya hanya tau beberapa nama dan wajah, diantaranya Iko Uwais, Ray Sahetapi dan Joe Taslim, di seri kedua ini lebih banyak pemeran yang saya kenal karena mereka sudah memiliki jam terbang yang tinggi di dunia perfilman. Diantaranya Roy Marten, Alex Abbad, Julia Estelle, dan Marsha Timothy. Kesuksesan film pertama ternyata mampu menarik bintang-bintang yang telah lama malang melintang di dunia seni peran ini untuk berperan di film ini.

Dari segi cerita, The Raid 2 lebih kompleks dari prekuelnya. Disini konflik dalam tubuh kepolisian, konflik antara atasan bawahan serta konflik dalam organisasi mafia diceritakan. Tak seperti The Raid yang ceritanya hanya seputar cara sang tokoh utama meloloskan diri dari markas organisasi penjahat. Kemajuan di sektor cerita.

Di segi koreo silat, menurut saya di The Raid 2 ini lebih banyak pertarungan antar senjata daripada hand to hand combat seperti The Raid. Dam menurut saya kebanyakan pertarungan antar senjata tak memperlihatkan teknik dan gerakan khas pencak silat. Secara pribadi saya lebih menyukai seri pertama. Tapi saya sangat suka pada pertarungan terakhir Rama melawan pengawal terakhir musuh. Sangat seru dan teknik-teknik pencak silat benar- benar diperlihatkan. Pertarungan yang memukau, sampai-sampai di akhir pertarungan penonton bioskop memberikan tepuk tangan di akhir pertarungan.

Disisi lain, saya menangkap ada beberapa hal yang tak masuk akal di film ini. Pertama, ada suatu adegan kematian seorang pemeran diluar rumah dengan lingkungan bersalju. Di Indonesia manakah pernah ada salju yang turun? Tempar itu bukanlah luar negeri karena ada gerobak mi ayam yang ada di Indonesia. Supaya lebih dramatis mungkin?

Kedua, saat Rama naik taksi dan diserang. Lokasi pengambilan gambar ada di blok M. Disana Rama menekan pijakan gas tetapi mobil berakhir di little Tokyo. Lokasi ini memang ada di blok M tetapi cukup jauh dari lokasi pengambilan gambar dan perlu belok beberapa kali jika menaiki mobil. Padahal di lokasi pengambilan gambar jika lurus adalah arah senayan. Mungkin karena di senayan sewa tempat untuk syuting lebih mahal?

Ketiga, saat Rama mengantarkan seorang tokoh terdapat latar gedung-gedung yang terbengkalai dan seperti telah terjadi kerusuhan disana. Setahu saya di Jakarta tidak ada lokasi seperti itu. Kenapa membuat latar seperti itu? Apa supaya adegan lebih dramatis lagi?

Keempat saat adegan kejar mengejar mobil terdapat adegan mobil menghantam halte transjakarta. Tapi di tepi halte yang hancur itu tidak terdapat jalur busway. Padahal di halte transjakarta manapun di tepinya selalu ada jalur transjakarta. Lupa menggambar jalur busway mungkin?

Overall, saya tetap suka film The Raid 2. Salah satu film Indonesia terbaik menurut saya. Walaupun terdapat hal-hal yang tak masuk akal seperti tadi, film ini tetap patut ditonton. Apabila anda penggemar film action & martial art, pencak silat khususnya, film ini wajib ditonton. Tetapi jika anda tidak kuat melihat darah dan tidak tahan melihat adegan-adegan sadis berlumuran darah sebaiknya jangan nonton film ini karena anda pasti akan muntah-muntah.

Sembari menulis review ini saya menyempatkan diri melihat nilai film ini di imdb. Ternyata film ini mendapat nilai 8, 8 dari maksimal nilai 10. Tinggi betul :O

posted from Bloggeroid

Monday, March 31, 2014

CCPNS, tapi...

Sah sah saja sebenarnya memiliki memiliki pilihan partai untuk didukung dalam pemilu. Itu adalah hak politik tiap warga negara untuk memilih dan dipilih. Apapun profesi, seberapa kaya, seberapa tinggi jabatan hak ini tetap dimiliki pleh seluruh warga negara Indonesia.

Tak terkecuali PNS. Seorang PNS pun juga memiliki hak ini. Minus hak untuk dipilih, PNS tetap memiliki hak untuk memilih. Tapi seorang PNS tidak boleh menunjukkan keberpihakannya kepada orang lain. Ini sudah rahasia umum. Hal ini dikarenakan jika seorang PNS berpihak kepada sebuah partai maka kebijakan yang diambilnya pun akan diragukan objektivitas dan kualitas kebijakannya. Dikhawatirkan, kebijakannya akan memuat unsur kepentingan partai yang didukungnya. Jadi jelaslah, seorang PNS tidak boleh terlibat dalam kegiatan politik praktis.

Bagaimana jika seorang CPNS menjadi seorang juru kampanye, bahlan kader dari sebuah partai politik? Memang dia belum menjadi PNS tapi bukankah dengan ikut mengkampanyekan suatu parpol saat menjadi CPNS akan mempengaruhi independensinya dalam menjadi PNS suatu saat nanti?

Inilah yang terjadi di kampus saya. Kampus dimana pelajarnya dididik menjadi abdi negara. Tak dapat dipungkiri kalau teman-teman saya sebagian besar adalah simpatisan dari suatu parpol. Tentang mengapa bisa begitu banyak kawan saya yang menjadi simpatisan parpol itu saya tidak tahu pasti apa penyebabnya.

Akhir akhir ini saya dan teman saya sesama mahasiswa STAN sering menerima sms dengan lambang suatu partai. Kemungkinan besar pengirim sms ini adalah mahasiswa STAN, atau penyebaran sms ini melibatkan mahasiswa dari kampus saya. Saya berpikir seperti itu karena banyak sekali mahasiswa STAN yang mendapat sms berisi serupa.

Bukankah seorang abdi negara harus netral? Bukankah seorang abdi negara tidak boleh menunjukkan dukungannya ke suatu partai? Bukankah abdi negara tidak boleh ikut berpartisipasi dalam kegiatan kampanye?

Memang, kami belum menjadi seorang abdi negara. Tetapi suatu saat kami akan menjadi abdi negara. Lalu kenapa salah satu kawan saya menyebarkan sms seperti itu? Sekarang memang belum menjadi abdi negara. Tetapi kami diharapkan akan menjadi seorany abdi negara diwaktu dekat ini.

Maka dari itu menurut saya tidak perlu seorang alumni STAN untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan kampanye suatu parpol. Netralitas dan subjektivitasnya akan dipertanyakan saat diketahui kalau ia pernah ikut ambil bagian kampanye dimasa mudanya. Semoga kawan saya yang menjadi juru kampanye tersebut bisa mempertahankan netralitasnya saat sudah bekerja nanti.

posted from Bloggeroid

Thursday, March 20, 2014

Menara Kuningan Lantai 16

Menara kuningan lantai 16. Sore hari, waktu dimana para pencari nafkah di ibukota merasa suntuk dan lelah akan kegiatannya sepanjang hari.

Di masjid suara dengkuran terdengar saling bersahutan. Layaknya suara katak di musim hujan mengundang pasangan. Bersahutan, berkelanjutan meski tak memiliki irama yang padu.

Mungkin mereka lelah.

posted from Bloggeroid

Tuesday, March 18, 2014

Waktunya merenung

Sepertinya aku terlibat terlalu jauh dalam hal ini. Baikkah hal ini untuk diriku? Benarkah yang kulakukan saat ini? Apakah aku sudah terlibat terlalu jauh dalam hal ini?

Aku perlu merenungkan hal ini. Dengan diriku sendiri. Karena hatiku memberontak. Ada sesuatu yang terasa salah saat aku bergumul dengan hal yang kusenangi ini.

Aku perlu untuk mundur sejenak. Mengamati, dari sudut pandang yang lebih luas dan menyeluruh tentang hal ini. Agar, aku bisa memutuskan hal yang baik untuk diriku. Karena menurutku perhatian yang terlalu besar kepada suatu hal bukanlah hal yang baik.

posted from Bloggeroid

Friday, March 14, 2014

Realistis, Kawan

Aku harus realistis dalam hal ini. Aku bukan siapa siapa untuknya. Baginya, aku adalah sebaris kalimat tak berarti diantara setumpuk tebal lembaran kisah hidupnya. Tak disadari.

Sebaiknya aku merubah sikap. Sebaiknya aku merubah cara memperlakukannya. Agar diriku tak makin terseret ke dalam ilusi yang indah ini. Karena sejatinya dia hanyalah satu dari jutaan faktor yang menentukan perjalanan hidupku.

Realistislah kawan. Sebelum realita menghempaskanmu ke dasar jurang penyesalan.

posted from Bloggeroid

Friday, March 7, 2014

Kota dibalik awan

Jakarta di sore hari, laksana kota yang dibalik awan. Kabut yang melingkupi kota ini, menciptakan suasana layaknya gedung-gedung di kota ini menjulang, menembus awan. Bukan sembarang kabut sayang. Kabut ini mematikan. Kabut ini berasal dari pipa gas buang kendaraan bermotor milik penduduk Jakarta yang manja & egois.

Monday, February 10, 2014

Privasi?

                Di jaman sosial media ini, masih adakah namanya privasi? Orang-orang yang bermain sosial media sering berkoar-koar “privasi dong”, atau “jangan kepo dong” saat laman profil sosial media nya dibuka seseorang. Hal yang aneh menurut saya.
                Saya tidak paham kenapa orang-orang yang bermain sosial media masih menginginkan privasi dan tak ingin laman profilnya dikepo seseorang.  Entah karena malu akan apa yang pernah di-post, atau pernah mem-posting sesuatu yang bersifat pribadi. Kenapa orang-orang masih mem-posting sesuatu yang tak diketahui orang lain di sosial media? Sosial media adalah tempat dimana sesuatu yang di-post disana akan selalu terlihat, baik untuk sebagian orang maupun semua orang. Tak ada sesuatu yang di-post untuk diri sendiri. Jadi, penggunanya juga harus paham konsekuensi dia mem-posting di sosial media, dia juga harus siap kalau apa yang dia post itu diketahui orang banyak.
                Oleh karena itu saya tidak paham orang-orang yang menutup profil sosmed nya agar tak terlihat orang. Walaupun orang luar tak dapat melihat profilnya, tetapi orang yanbg mengenalnya tetap dapat melihat profilnya kan? Lalu bedanya apa? Orang yang menjadi jaringan kita belum tentu orang yang kita kenal dan belum tentu paham yang kita maksud di postingan kita kan? Dikepo orang yang dikenal dan takdikenal, apa bedanya? Toh orang sama-sama kepo, dan informasi tentang kita tetap menyebar di orang lain.
                Kalau tak mau informasi yang dirasa pribadi diketahui orang di sosmed, sebaiknya janganlah mem-posting hal-hal yang dirasa pribadi di sosmed. Karena hakikatnya sosial media adalah jejaring tempat berbagi informasi. Maka, tersebarnya informasi yang kita posting di sosial media adalah hal yang lumrah.


Saturday, January 25, 2014

Macet....

Jakarta dan macet saat ini bagaikan dua sisi mata uang. Satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Kalau teringat Jakarta pasti selalu teringat kejamnya macet di jalanan ibukota ini. Begitu pula sebaliknya kalau bicara macet, di kepala selalu terlintas masalah macet di Jakarta. Atau, setidaknya begitulah yang saya pikirkan tentnag macet dan ibukota negara ini.

Yah, saya berpikir seperti ini karena saya juga seorang pejuang (kalau bisa dikatakan begitu hehehe) kemacetan di Jakarta. Setiap hari bergelut dengan kemacetan Jakarta. 3 jam dalam sehari, 5 hari dalam seminggu. Bisa lebih sih kalau lagi lembur.

Menyebalkan. Itulah yang terasa ketika sedang terjebak macet. Kita memiliki jadwal yang harus dipenuhi. Ada deadline. Waktu seolah-olah sedang memburu kita. Tetapi kendaraan didepan berbaris tidak teratur, memanjang, dan tak bergerak. Kadang, alam pun seolah menertawakan pengendara kendaraan pribadi itu dan mengolok-olok kami dengan menurunkan hujan deras, atau panas yang menyengat ditengah kemacetan itu.

Tapi saya baru sadar beberapa hari lalu kalau macet memiliki sisi lain. Sisi lain ini cukup mengasyikkan, kalau menurut saya sih. Saya menemukan kebiasaan baru saat macet ini. Yaitu mengamati ekspresi wajah pejuang-pejuang macet ibukota. Bisa kita amati ratusan ekspresi yang dimiliki pejuang-pejuang macet ibukota ini. Ratusan wajah orang-orang yang menggantungkan hidupnya di ibukota.

Bermacam-macam ekpresi dapat ditemi disini. Ada orang yang terlihat pasrah dengan kemacetan ini. Ada orang yang memendam emosi dan kemarahan ditengah macet. Ada orang yang terlihat berseri-seri entah kenapa, mingkin karena baru gajian atau baru dapet pacar. Ada yang terlihat begitu emosi, sampai mengebel-bel kendaraan didepannya, padahal depannya juga tidak berjalan. Ada yang begitu hati-hati waktu berjalan, sepertinya baru belajar naik motor. Dan lain-lain, yang tidak bisa saya sebutkan karena saking banyaknya (karena lupa juga sih hehehe).

Sampai saat ini saya masih menikmatinya. Hitung-hitung sebagai pengisi waktu luang dikala macet sih. Siapa tau juga ketemu orang yang memiliki wajah menarikk juga, bakal sangat menghilangkan bosan waktu macet hehehe.