Monday, January 12, 2015

Satu hal bodoh mengacaukan segalanya...



Bepergian berwisata atau berpetualang harusnya menjadi kegiatan yang menyenangkan dan mengasyikkan. Setidaknya, itulah yang saya pikirkan. Tetapi, satu perbuatan bodoh bisa menghancurkan rencana yang telah kita rancang matang-matang. Membuat saya membatalkan rencana jalan-jalan, dan langsung kembali ke tempat kos sesaat setelah saya tiba di kota tujuan saya.

Kemarin, tanggal 3 Januari saya berencana berwisata ke Lamongan. Saya belum pernah pergi kesana sebelumnya, oleh karena itu saya cari terlebih dahulu tempat wisata di Lamongan yang kira-kira menarik. Setelah beberapa waktu googling, akhirnya saya memutuskan pergi ke sebuah tempat wisata yang cukup tersohor di Jawa timur dan belum saya kunjungi yaitu Wisata Bahari Lamongan (WBL). Pikir saya, untuk pertama kali ke Lamongan sebaiknya pergi ke wisata yang sudah terkenal dahulu. Baru setelah itu jika ingin berwisata ke Lamongan lagi saya akan mengunjungi tempat wisata yang kurang diketahui. Akhirnya, saya berangkat kesana jam 9 pagi dari kota Bojonegoro. 

Saya juga sempat mencari makanan-makanan khas Lamongan yang terkenal, seperti Soto Lamongan yang terkenal, dan pedagang penjual soto ini menyebar di seluruh Indonesia (?) bagaikan jamur. Ada dimana saja, dapat bertahan hidup di berbagai kondisi. Tentunya kurang lengkap kalau ke Lamongan tapi tidak mampir mencicipi Soto Lamongan “asli” Lamongan. Kata google, Soto yang enak (dan murah) ada di soto Cak Mardi. Waktu saya anya penduduk sekitar, mereka juga merekomendasikan untuk makan disana. Akhirnya, setelah bertanya tempatnya makin mantaplah saya untuk pergi ke warung soto Cak Mardi, memesan semangkok, dan merasakan kelezatan soto asli Lamongan. 

Tak berapa lama, setelah beberapa kali salah belok dan berputar-putar saya sampai ke warung soto Cak Mardi. Terlihat ada sebuah warung makan di tempat yang seharusnya menjadi tempat warung soto Cak Mardi, tetapi tak ada aktivitas apapun disana. Dalam hati, saya berharap itu adalah warung lain dan bukan warung Cak Mardi. Saya pun bertanya ke penduduk sekitar tempat makan soto yang terkenal di sana. Sepakat beberapa penduduk yang saya tanya menunjuk ke warung Cak Mardi, tapi hari itu tutup entah kenapa. Tutup! Ketidak beruntungan saya pertama hari itu.

Akhirnya, saya “sarapan” di lain tempat, yaitu di sebuah warung yang menjual tahu campur di pinggir jalur utama Pantura. Karena di pinggir jalan utama, jadi kena harga mahal, deh. Untuk sepiring tahu campur dan segelas es teh saya ditarik 15 ribu. Wow!

Ketidak beruntungan saya yang kedua.

Setelah makan, saya bersiap berangkat ke WBL. Namun ditengah jalan, saya merasakan ada sesuatu yang janggal. Saya lupa apakah saya sudah mengunci pintu kos saya. Saya cek di saku celana, baju, dan jaket tidak ada. Tidak ada! Saya langsung cemas, jangan-jangan saya membiarkan kunci kos tergantung di pintu kos, karena saya yakin telah mengunci pintu kos tadi. Sayapun khawatir, jangan-jangan waktu kembali barang-barang saya sudah raib dan pintu kos menganga bagai gua, seperti saat saya dan kawan saya kemalingan waktu kuliah dulu. Akhirnya tanpa pikir panjang saya langsung tancap gas. Kembali ke Bojonegoro.

Selama perjalanan, saya berusaha menepis jauh-jauh pikiran-pikiran buruk tadi dan yakin kalau tidak ada apapun yang terjadi di kamar kos saya selama saya tinggal pergi. “Semoga tidak ada apa-apa”, bisik saya dalam hati. Jalan pulang ke Bojonegoro saat itu juga sedang gerimis. Sayha jadi berpikir, mungkin gerimis saat itu adalah air mata tawa milik langit yang terbahak-bahak menyaksikan kebodohan saya kali yaa.

Setelah menempuh sekitar 2 jam perjalanan, sayapun tiba di kos saya. Langsung saya berlari menuju kamar kos saya. Dan, ternyata benar. Ada sebuah kunci kecil tak berdosa yang tergantung dengan tenangnya di pintu kos saya. Huft.Lega juga, ternyata tidak terjadi apapun di kamar kos saya.

Saya tidak tahu berapa banyak hal bodoh yang telah saya lakukan dan seberapa bodoh hal itu. Tapi kejadian hari ini adalah salah satu hal terbodoh yang pernah saya lakukan, jika bukan hal terbodoh yang pernah saya lakukan.

No comments:

Post a Comment