Malam minggu kemarin, seperti biasa saya yang jomblo ini
berjalan-jalan di keramaian kota seorang diri. Ya, seorang diri. Seperti
biasanya. Ada enaknya juga kalau sendiri gini, jalan-jalan bisa seenaknya
kemana-mana. Nggak perlu repot mikirin orang, nggak perlu ngebeliin orang kalo
lagi jajan,nggak ada yang gangguin kalo nglamun. Pokoknya, bebas
sebebas-bebasnya hahahaa.
Saya jalan-jalan ke Alun-alun (anggap saja) Kota Bojonegoro. Saya penasaran
kayak apa sih alun-alun di kota ini. Ternyata rame. Banget. Banyak hal yang ada
disini. Mulai dari tempat nongkrong dan bergaul, tempat muda-mudi pacaran,
tempat orang tua ngajak main anaknya karena banyak wahana seperti pasar malam,
dan berbagai komunitas tumplek blek disana.
Di sudut alun-alun, saya dengar suara-suara unik. Seperti
gamelan tapi bukan, kuda lumping nggak juga, reyog ya nggak mungkin. Lha wong
ini Bojonegoro, bukan Ponorogo. Usut punya usut, ternyata itu suara topeng
monyet. Ledek Kethek bahasa Jawanya. Dan nggak cuma satu, saya tahu ada 4
pertunjukan topeng monyet di seluruh alun-alun Bojonegoro malam itu.
Dari dulu saya nggak suka topeng monyet. Saya nggak pernah
bisa menemukan kelucuan di tingkah laku monyet itu. Cuma naik sepeda, pake
payung, mukul gendang. Gitu- gitu aja. Bukan hal yang menarik buat saya. Yang
makin bikin saya nggak suka, sejak saya menyadari ada rantai yang diikatkan di
leher si monyet dan ditarik sama majikannya sesuka hati.
Belenggu. Si monyet dibelenggu oleh kemauan si majikan dan
hanya boleh bergerak jika dilihat perlu oleh majikannya. Si monyet
ditarik-tarik, ke arah mainannya yang bukan untuk mainan dia. Lebih cocok
disebut alat atraksi bukan mainan. Si monyet sudah piawai menggunakan alat
atraksi itu, dan kadang ditariknya rantai itu kemari oleh majikan monyet
sehingga terlihat lucu dimata orang yang melihat. Kecuali saya. Saya nggak tahu
gimana latihan yang dijalani si monyet sampai bisa menggunakan alat atraksinya
begitu terampil dan bukan latihan yang baik yang ada di benak saya. Semoga
bayangan saya salah.
Waktu si majikan akan pindah tempat, si monyet yang mau
istirahat terus ditarik oleh majikannya sampai ia mau bergerak dan mengikuti si
majikan. Saat si monyet telah menyelesaikan atraksinya ia nggak langsung diberi
makanan. Ia dipancing-pancing dahulu supaya loncat-loncat. Mungkin biar
kelihatan lucu. Kemudian setelah agak lama baru diberi makanan oleh si majikan.
Monyet-monyet ini
adalah budak kita. Budak si pawang untuk memperoleh penghasilan, juga budak
kita yang menonton supaya kita terhibur, tertawa, dan merasa senang hati. Pikir
kita semua, apalah artinya seekor monyet, yang penting kebutuhanku terpenuhi.
Yang penting aku memperoleh uang dari pertunjukannya. Yang penting aku terhibur
dan merasa senang menonton pertunjukannya. Dia ngerasa sengsara sedikit nggak
masalah lah. Kan aku manusia. Kan aku khalifah di bumi ini. Makhluk lain harus
menuruti kemauanku.
Semoga kita semua bisa jadi lebih manusia. Semoga kita nggak
terlalu menghewankan hewan sekalipun. Semoga monyet-monyet itu nggak terlalu
diperlakukan terlalu monyet sama manusia pemiliknya. Semoga anggapan saya yang
terakhir tadi salah.
Ah, saya jadi inget waktu saya jalan-jalan ke pemandian Bektiharjo,
Tuban. Disana banyak monyet berjenis serupa yang hidup bebas, lompat-lompat
kesana kemari sesukanya. Rasanya, saya pingin menculik monyet-monyet di
alun-alun Bojonegoro kemarin malam dan saya bawa lari ke pemandian Bektiharjo
sana. Kepingin saya lepas monyet-monyet itu biar mereka bisa melopat-lompat,
istirahat, makan, dan beratraksi lainnya tanpa persetujuan majikan si monyet.
Tanpa kerangkeng di leher mereka.
No comments:
Post a Comment