Wednesday, December 31, 2014

Tak paham tahun baru



Saya tak paham, apa yang dirayakan saat tahun baru.  Jutaan orang, atau bahkan ratusan juta orang yang merayakannya. Tapi saya tak mengerti apa yang bisa dirayakan dan dijadikan bahan untuk bersuka cita saat tahun baru. Tapi bukan berarti saya menunjuk-nunjuk kafir, bid’ah, laknatullah untuk yang merayakannya.  Saya hanya tak mengerti apa yang dirayakan. Apa yang membuat orang-orang bespesta pora, konvoi sepeda motor, dan menghabiskan banyak uang untuk kmerayakanya. Karena saya bukanlah orang pintar, maka wajarlah hal seperti ini saya tak paham.

Malam pergantian tahun. Sepertinya kok tidak berbeda dengan malam hari biasa ya. Sore harinya, matahari terbenam di pukul 17.45 (sekitar itulah, saya tidak hafal hehehe), tetap gelap, bulan muncul dan hari berikutnya matahari terbit sekitar pukul 5.00. Tidak kurang dan tidak lebih. Bukankah kita tiap hari mengalami hari itu? Hanya saja,  kebetulan bertepatan dengan tanggal 31 Desember. Tapi tanggal 31 Desember dirayakan dan tanggal-tanggal lainnya tidak dirayakan. Saya tidak tahu kenapa.
Semangat baru, harapan baru, awal baru. Bukankah kita tiap hari mendapat awal baru? Setiap kita bangun tidur, itu adalah awal baru bagi kita. Harapan baru agar kita bisa menjadi lebih baik dari hari kemarin. Memulai sesuatu yang baik tak perlu menunggu sampai tahun berganti. Memulai usaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik & memuliakan nasib tak perlu menunggu pergantian kalender terlebih dahulu. 

Bergantinya tahun, otomatis jumlah tahun menjadi lebih banyak. Sebanding dengan usia kita. Usia kita pun bertambah. Sebaiknya kita mengevaluasi diri kita, sudahkah jadi lebih baikdari tahun lalu, ataukah lebih buruk, dan sebaiknya merencanakan sesuatu, hal sekecil apapun agar bis ajadi pribadi yang lebih baik kedepannya. Selain itu, sejalan dengan bertambahnya jumlah taun jumlah usia kita jugabertambah. Yang artinya kita menjadi lebih tua dan setahun lebih dekat menuju kematian dibanding setahun lalu. Sudahkah kita mempersiapkannya dengan sebaik-baiknya? Sudahkah kita mengisi hidup dengan hal-hal bermanfaat? Pertanyaan bagi kita semua termasukdiri saya sendiri.
Selain itu, sudah menjadi hal yang lumrah bila tahun baru dirayakan dengan konvoi keliling kota menggunakan knalpot sepeda motor yang memekakkan telinga. Ditengah jalan konvoi itupun gas diblayer-blayer (digas-gas tanpa menjalankan motor, agar terdengar suara keras, saya tidak tahu bahasa Indonesia nya hehe). Membakar dan maenghabiskan bensin tanpa tujuan yang jelas. Disaat pemerintah menaikkan harga bensin, mereka menghujat, menjelek-jelekkan, dan membodoh-bodohkan pemerintah. Tapi disaat seperti ini mereka tetap membuang-buang bensin untuk hal yang tak berguna. Saya tidak paham.

Sekali lagi, saya menulis ini bukannya saya menunjuk sesat, kafir, ikutan budaya orang kafir kepada yang merayakan. Semua itu pilihan untuk ikut merayakan atau tidak. Saya tak paham apa yang perlu dirayakan di malam pergantian tahun jadi saya tak ikutan merayakan. 

Saya bukan orang pintar, jadi saya tak paham hal begini.

No comments:

Post a Comment